Friday, December 23, 2016

Bagaimana Islam Menyikapi Tawar menawar dalam shalat dalam kejadian Isro' mi'roj.?

Assalamualaikum Wr. Wb.
Dalam kisah isro’ mi’roj Nabi  Muhamad “ tawar menawar “ dengan Allah SWT melalui Nabi Musa soal jumlah shalat dari 50 waku – akhirnya jadi 5 waktu. Saya pernah mendengar hadits yang populer di kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah, bahwa hadits ini dikatakan bertentangan dengan akal, walapun sanadnya shahih , karena itu, kata mereka, hadits ini harus  ditolak dengan alasan : masa’ Allah yang punya otoritas mutlak memerintahkan kewajiban kepada hambaNya itu; bisa ‘ditawar’ dan Nabi Muhammad terkesan didikte oleh Nabi Musa. Bagai mana ini.?
Baca jugak bagaimana hukum baca surah waqiah dengan niat dunia
Alaikumsalam
Ya Hadits itu memang opuler di kalangan Ahlusunnah Wal jama’ah dan banyak dikutip setiap peringatan isro’mi’roj oleh para Muballigh.  Dari seggi sanad  hadits ini shahih, mereka yang menolak hadits ini berlasan: matn(teks) hadits tersebut bertentangan dengan akal (konteks). Tapi mafhum hadits ini sebenarnya tidak controversial dengan pesan yang dikandung.
Jika dicermat, pesan-pesan penting yang akan disampaikan oleh Allah itu terkesan berlikuk liku (dari sisi bahasa) seakan berlawanan dengan konteksnya. Tapi sesungguhnya menjadi cirri agaknya – bahwa Tuhan jika membebankan kewajiban yang penting bagi hamba – hambaNya terkadang melalui rangkaian kata-kata yang tidak straight to the point  seperti itu.

Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman :
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا (٧٢)
Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,[1233] Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
Bisa saja Allah itu langsung membebankan tugas dan kewajiban ini kepada manusia langsung tanpa harus berkelok-kelok menawarkan kepada langit, bumi dan gunung, tetapi pemahaman yang bisa ditangkap dari makna hadits ini adalah menunjukkan keseriusan amanat yang diberikan kepada makhluk dan akhirnya dipilih manusia untuk memikulnya.
Cerita tentang tawar menawar itu juga sebenarnya melambangkan belas kasih dan kemurahan Allah atas kelemahan makhluk-Nya . yakni, bahwa Allah, dalam batas-batas dan kondisi tertentuakan memberikan keringanan atas kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada hambanya.

Artikel By: Al-Inaya. Blogspot.com
Sumber : Menjawab Pertanyaan Musykil Oleh H. Muhammad Baharun