Monday, April 3, 2017

Hadist Tujuh Golongan yang mendapatkan naungan

Tiada yang meragukan bahawa keadilan dan kejujuran adalah akhlak yang mulia. Oleh sebab itu tidak hairan apabila Rasulullah s.a.w. selalu menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang agung ini.

Hadith-hadith Nabi yang terangkum dalam kitab Shahih al-Bukhārī dan Muslim juga menerangkan tentang sifat jujur ini, di samping juga menerangkan sifat negatif yang menjadi lawan daripadanya, iaitu kebiasaan berbohong. Hadith-hadith tersebut berjumlah banyak sangat, di antaranya adalah:

Pemimpin harus bersikap adil
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ
Abu Hurairah r.a: berkata: bersabda nabi saw: ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan allah, pada hati tiada naungan kecuali naungan allah:
Imam(pemimpin) yang adil, dan pemuda yang rajin ibadah kepada allah. Dan orang yang hatinya selalu gandrung kepada Masjid. Dan dua orang yang saling kasih sayang karena allah, baik waktu berkumpul atau berpisah. Dan orang laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan nan cantik, maka menolak dengan kata: saya takut kepada Allah. Dan orang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang berdzikir ingat pada allah sendirian hingga mencucurkan air matanya. (Buchary, Muslim)

Penjelasan:
Meski hadist ini menjelaskan tentang tujuh macam karakter orang yang dijamin keselamatannya oleh allah nanti pada hari kiamat, namun yang sangat ditekankan oleh hadis ini adalah karakter orang yang pertama, yaitu pemimpin yang adil. Bukannya kita menyepelekan enam karakter sesudahnya, akan tetapi karakter pemimpin yang adil memang menjadi tonggak bagi kemaslahatan seluruh umat manusia. Tanpa pemimpin yang adil maka kehidupan ini akan terjebak ke dalam jurang penderitaan yang cukup dalam.
Untuk melihat sejauh mana seorang peimimpin itu telah berlaku adil terhadap rakyatnya adalah melalui keputusan-keputuasan dan kebijakan yang dikeluarkannya. Bila seorang pemimpin menerapkan hukum secara sama dan setara kepada semua warganya yang berbuat salah atau melanggar hukum, tanpa tebang pilih, maka pemimpin itu bisa dikatakan telah berbuat adil. Namun sebaliknya, bila pemimpin itu hanya menghukum sebagian orang (rakyat kecil) tapi melindungi sebagian yang lain (elit/konglomerat), padahal mereka sama-ama melanggar hukum, maka pemimpin itu telah berbuat dzalim dan jauh dari perilaku yang adil.
Baca jugak penegrtian hadist 
Diriwayatkan oleh Ibn Mas‘ūd bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:


عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا 

Maksudnya: “Bersikap jujurlah kalian, kerana kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan ke surga. Di saat seseorang selalu jujur dan menjaga kejujurannya, Allah s.w.t. akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Janganlah kalian berbohong, kerana kebohongan akan mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan mengantar seseorang masuk neraka. Jika seseorang selalu berbohong dan membiasakan diri berbohong, Allah s.w.t. akan menetapkannya sebagai pembohong.”[1] 

2. Sahabat Abū Hurairah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ 
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga; Jika bicara ia berbohong, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika bersumpah ia melanggarnya.”

Jika kita hendak mengkaji kitab al-Bukhārī dan Muslim, kita akan banyak menemukan hadith yang menerangkan keutamaan kejujuran. Namun dalam buku ini kami hanya akan menyebutkan sebahagian sahaja. 

Jujur mempunyai banyak definisi, namun ada satu makna yang sering digunakan dan mudah difahami, yaitu: perkataan yang benar, sesuai dengan realiti yang dilihat oleh orang yang mengatakan meskipun orang lain tidak mengetahuinya. 

Kejujuran dan kebenaran mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah s.w.t.. Sehingga dalam firman-Nya, Allah s.w.t. Mengistilahkan janji yang akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan kebajikan dengan istilah “Janji yang benar”. 

Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ahqāf, 46: 16, yang ertinya: “Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” 

Dalam Al-Qur’an Allah s.w.t. juga meminta kaum yang beriman untuk bergabung bersama orang-orang yang benar dan jujur, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (al-Taubah, 9: 119). 

Allah s.w.t. juga memberi pernyataan dengan firman-Nya tentang kebenaran, iaitu dalam surah al-Nisā’, 4: 87, yang ertinya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah,” juga dalam surah al-An‘ām, 6: 146, Allah berfirman yang ertinya:“Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.” 

Nabi Muhammad s.a.w. terkenal sebagai peribadi yang jujur baik pada masa Jahiliyyah maupun pada masa Islam. Sebelum wahyu diturunkan dan sebelum Rasul mendakwahkan ajaran Islam, kaum Qiraisy mengenal Beliau sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Ketika Hajar Aswad terbawa banjir, Muhammad ikut serta mengembalikannya ke tempat semula. Langkah kedatangan Beliau yang hendak bergabung dengan para pemimpin kaum Quraisy, disambut dengan kata-kata penghormatan: “Orang yang jujur dan dapat dipercaya telah datang.” 

Dalam Al-Qur’an, Rasulullah s.a.w. juga disebut sebagai orang jujur dan benar. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ahzāb, 33: 22, yang ertinya: “Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” 

Dalam Al-Qur’an, Allah selalu menegaskan bahwa di hari kiamat nanti Dia akan memberikan pahala kepada orang-orang yang benar dan jujur. Selain itu Dia juga berjanji akan menyiksa orang-orang yang bohong. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Ahzāb, 33: 24, yang ertinya: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu kerana kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Di ayat lain Allah berfirman yang ertinya: “Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (al-Ahzāb, 33: 8). 

Sementara itu Allah telah menyiapkan neraka sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang berdusta dan sering melakukan kezaliman. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Zumar, 39: 32, yang ertinya: “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang kafir? 

Jika kita perhatikan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, kita akan mendapatkan bahawa orang-orang kafir sering sekali mendustakan nabi Muhammad s.a.w., sehingga Allah memberi khabar kepadanya bahawa umat-umat terdahulu juga sering mendustakan Nabi-nabi mereka. Meskipun ajaran para Nabi sangat jelas dan nyata, namun cemoohan dan tuduhan bahawa mereka adalah pembohong sering mereka dengar. Menghadapi keadaan yang demikian ini, mereka tetap tegar dan sabar. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Hajj, 22: 42-44, yang ertinya: “Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, ‘Ad dan Thamud. (42) dan kaum Ibrahim dan kaum Lut, (43) dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang -orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). (44)” 

Sejak waktu kecil Rasulullah s.a.w. sudah terbiasa dengan sifat jujur ini. Orang-orang yang berkawan dengan Beliau sejak kecil, tidak pernah sekalipun mendengar Rasulullah s.a.w. berbohong, kerananya orang-orang juga tidak ragu atau curiga atas apa yang dikatakan olehnya. 

Namun ketika Risalah Samāwiyyah diturunkan, dan Beliau hendak menyebarkannya, kaum kafir Quraisy mulai tidak mempercayakannya. Pada awal mula dakwahnya, Beliau naik ke bukit Safā dan berseru: “(Wahai kaum Quriasy) pagi sudah menyingsing (kemarilah dan berkumpullah).” Beliau mengucapkan kalimat ini dengan harapan kaum Quraisy berkumpul. Setelah berkumpul, mereka bertanya: “Ada apa Muhammad? Nabi Muhammad melanjutkan pidatonya: “Apa yang akan kalian katakan, apabila saya memberi khabar kepada kalian bahawa musuh akan datang pagi ini atau petang nanti.Apakah kalian mempercayaiku? kaum Quraisy menjawab: Ya. Kami tidak pernah melihat kamu berbohong. Nabi melanjutkan pidatonya: “Ketahuilah, saya ini adalah orang yang mengingatkan kalian supaya tidak mendapatkan siksa yang pedih.” 

Mendengar seruan Rasul ini, Abū Lahab marah, dan berkata: “Celaka kamu wahai Muhammad. Apa hanya untuk tujuan ini kamu mengumpulkan kami?” Dan kemudian Allah s.w.t.. mengancam Abū Lahab dengan menurunkan rangkaian ayat berikut ini:“Binasalah kedua tangan Abū Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (1) Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (2) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (3)” (al-Lahab, 111: 1-3). 

[1] H.R. al-Bukhārī, Muslim, Abū Dāwud dan al-Tirmidhī.

Demikian semoga bermanfaat diposkan oleh https://al-inaya.blogspot.co.id/